Senin, 19 Desember 2011

Sistem Kasta di Bali



Ah, aku ngga ada kreatif sedikit pun. Ini copas lagi, dari http://tanakung.multiply.com/journal/item/4/kasta_dalam_kehidupan_masyarakat_bali?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem. Tapi semoga aja bermanfaat deh buat pembaca :)

Check this out, guys! :)

 
Mengurai permasalahan adat di bali, ibarat mengurai benang kusut, benang kusutnya penuh dengan beling pula.

salah satu isu yang sering disebut-sebut oleh teman-teman dari daerah luar bali adalah mengenai kasta. apakah benar ada sistem kasta di bali? jawabannya adalah BENAR. Kasta adalah struktur sosial masyarakat. apakah kasta produk agama, khususnya agama hindu? dengan tegas saya jawab TIDAK, kasta adalah produk politik. Memang dalam agama Hindu ada istilah catur Varna, yaitu 4 golongan masyarakat berdasarkan pekerjaannya. 4 varna itu yaitu brahmana, ksatria, waisya dan sudra. brahmana adalah golongan pendeta/orang suci yang mendalami ajaran agama, ksatria adalah para pejabat pemerintahan/kerajaan, waisya adalah para pedagang, petani, buruh, nelayan dan sudra adalah para pelayan.

dalam masyarakat bali istilah kasta biasanya dijabarkan menjadi brahmana, puri dan jaba. brahmana adalah para rohaniawan khususnya keturunan dari klan tertentu, sekali lagi perlu digarisbawahi klan tertentu. puri adalah mereka yang tinggal di lingkungan puri/keraton, yaitu para raja dan kerabat-kerabatnya. Jaba atau wang jero adalah mereka yang tinggal di luar lingkup puri dan bukan golongan brahmana.

ada suatu kebiasaan di bali, ketika kita bertamu ke rumah teman misalnya kemudian bertemu dengan orang tuanya, orang tuanya akan bertanya, "nawegang, antuk napi liggihe nike?" artinya "maaf, kedudukan anda apa" (maksudnya kasta apakah brahmana, puri atau jaba). Kenapa pertanyaan itu diajukan? karena takut kualat. orang bali sudah di doktrin berabad abad bahwa golongan brahmana dan puri adalah golongan tinggi yang harus lebih dihormati sehingga tata bicara pun harus berbeda. untuk diketahui dalam bahasa bali ada beberapa tingkatan mulai dari yang halus, biasa sampai yang kasar.

dalam keseharian, "diskriminasi" yang paling tampak antara golongan brahmana, puri dan jaba adalah dari penggunaan bahasa yang digunakan. bahasa halus selalu digunakan ketika berbicara dengan golongan yang lebih tinggi tanpa memandang usia. maksudnya meskipun brahmana atau orang puri itu usianya lebih muda dan yang jaba lebih tua, tetap yang jaba selayaknya berbicara menggunakan bahasa bali halus. tapi kaum brahmana dan puri tidak wajib untuk berbahasa halus dengan golongan jaba.

apakah diskriminasi kasta hanya sebatas itu? jawabannya TIDAK. pengaruh kasta sudah merasuk hingga ke tatanan upacara adat dan agama. contohnya adalah pernikahan. wanita dari golongan puri dan brahmana sangat-sangat dilarang untuk menikah dengan pria dari golongan jaba. kalaupun itu sampai terjadi, si wanita biasanya akan dikeluarkan dari keluarga alias tidak diakui oleh keluarganya. bagaimana kalau pria dari golongan puri menikah dengan wanita jaba? jawabannya bisa, tapi si wanita harus siap diperlakukan tidak setara. misalnya pada waktu upacara pernikahan, wanita yang kastanya lebih rendah mesti rela diupacarai tidak sejajar. biasanya banten (sarana upacara) untuk mempelai wanita diletakkan terpisah bahkan di beberapa daerah malah diletakkan di bawah. di beberapa daerah di bali, si wanita mesti rela "melayani" ipar-iparnya yang mempunyai kasta yg lebih tinggi. suatu contoh, misal ada kondangan ke suatu keluarga, jika mereka datang bersama-sama, maka wanita yag kastanya lebih rendah wajib untuk membawakan barang-barang bawaan ipar-iparnya yang kastanya labih tinggi. dan si wanita itu mesti berjalan paling belakang. bahkan kadang-kadang hal tersebut berlaku juga buat keturunannya karena anak-anaknya dianggap "tidak berdarah murni".

bagaimana pada zaman sekarang pada abad millenium ini, apakah itu masih berlaku? jawabannya adalah IYA dan TIDAK. tentu saja ada pihak yang pro dan kontra. pihak-pihak yang mendapatkan keuntungan dari adanya sistem ini tentu saja akan masih mempertahankannya. sementara pihak-pihak yang merasa tidak nyaman akan cenderung menolaknya. tetapi ada satu pihak lagi, yaitu pihak yang merasa tidak nyaman tetapi takut untuk merubah dan pihak ketiga jumlahnya banyak. kenapa mereka takut merubah? itulah hebatnya doktrinisasi kasta ini, saking meresapnya hingga merasuki ritual agama dan adat. jika sudah memasuki teritori agama, maka mana ada sih orang yang berani melawan "perintah tuhan'?. ada juga yang beralasan untuk menghormati para tetua yang sangat konservatif.


BENTUK-BENTUK "PERLAWANAN"
saat ini terutama di kota denpasar dan di kalangan generasi muda masalah tata bahasa antar kasta tidak terlalu dihiraukan. mengapa? pertama, karena kesadaran bahwa penghargaan terhadap orang bukan karena keturunannya tetapi karena perilakunya. kesadaran terhadap kesetaraan juga yang membuat generasi muda lebih tidak terlalu hirau. kedua, karena penggunaan bahasa indonesia. bahasa indonesia tidak mengenal istilah kasar atau halus jadi pengunaannya bebas. namun ada juga yang menyebutnya ini sebagai bentuk pelunturan budaya. kalau menurut saya, bagian kesetaraan bukanlah pelunturan budaya tetapi penguasaan bahasa bali yang semakin berkurang adalah pelunturan budaya saya setuju. apakah menegakkan budaya harus menekan kesetaraan? apakah menegakkan budaya berarti harus mangabadikan diskriminasi kasta? tentu tidak bukan. penggunaan tata bahasa bisa diapakai kepada orang tua atau yang lbh dihormati, tidak selalu kepada kasta yang lebih tinggi.

Mengenai diskriminasi dalam upacara pernikahan, sampai dengan saat ini masih sangat-sangat sulit dihilangkan. tetapi ada bentuk perlawanan unik terhadap sistem pernikahan beda kasta. ada orang tua dari kasta yang lebih tinggi punya putri yang berpacaran dengan pria dari kasta yang lebih rendah. ketika sang pria mengutarakan niatnya untuk menikahi putri mereka, orangtua yang wanita berpesan, pada dasarnya dia tidak keberatan tapi karena kastanya berbeda, lebih baik kawin lari saja. dengan kawin lari, orang tua akan terlihat seperti tidak tahu dan dia tidak pernah "memberikan" putrinya untuk dinikahi. dengan demikian orang tuanya tidak akan dipersalahkan oleh adat karena "memberikan" anaknya ke kasta yang lebih rendah. bagaimana dengan wanita yang berkasta lebih rendah dan pria dengan kasta lebih tinggi. bentuk diskriminasi dalam upacara mungkin belum bisa dihilangkan, tapi dalam kehidupan berumah tangga sudah banyak sekali yang dipelakukan setara sebagaimana layaknya.